Gw baru aja selesai nonton film korea yang judulnya “My Sassy Girl” dan “Windstruck”. Walaupun jujur aja gw gak up-to-date banget ya, baru nonton dua film itu sekarang. padahal filmya udah lumayan lama.. hehe. Maklum lah, dulu kan gw lom terlalu suka sama yang namanya film buatan negeri gingseng itu. Dulu gw lebih nyaman nonton film/dengerin lagu yang asalnya dari negara tetangganya, Jepang. Baru sekarang-sekarang ini aja nih, kayanya akibat salah gaul sama orang yang sukanya nonton film korea sih (dan segala sesuatu yang berhubungan sama korea, termasuk SNSD hehe) gw jadi terpengaruh dan nyoba-nyoba nonton film-film itu deh. Yah, efeknya gak terlalu buruk lah, paling gara-gara asik mantengin film korea itu, gw jadi telat makan sam telat solat… hehehe
Kesan yang pertama kali gw rasain waktu nonton film “my sassy girl” adalah: “gila, gw gak nyangka klo film korea sebagus itu!” pantesan aja banyak temen gw yang rela mantengin tipi setiap hari cuma buat nonton drama korea. :p Dan gw juga hampir netesin air mata waktu nonton adegan di nama si cewek curhat masa lalunya (ke siapa gw gak ngerti, kayanya sih ke penonton…
) Ternyata film korea bisa membawa hati gw jadi terharu juga ya, walaupun gak sampe nangis sih…( boys don’t cry… remember?)
ada beberapa pelajaran yang bisa gw ambil dari dua film di yang baru gw nonton itu. Yang pertama, adalah bahwa yang namanya cinta itu gak bakalan pernah ketahuan kapan datangnya. Walaupun gw ngambil contohnya dari film (yang notebene-nya semua kejadian di dalamnya mungkin sekali bisa dimanipulasi), tapi bukannya film itu adalah potret kenyataan kan? contoh kecil ketika si tokoh utama cowok (namanya siapa ya…. gw lupa tuh :p ) bertemu si tokoh utama cewek dalam keadaan yang “sama sekali tak terduga” dan juga memang aneh banget. Klo gw pikir secara nalar mah, kayanya gak mungkin deh dua tokoh itu bisa saling jatuh cinta. tapi sekali lagi, cinta itu tidak memilih kan? cinta datang kepada siapa yang memang ia ingin datangi, tidak peduli bagaimana keadaannya (termasuk bagaimana skenario kedua insan itu bertemu
)
yang kedua, takdir itu bukan berarti diam dan tidak melakukan apa-apa, sembari menunggu keajaiban datang. walaupun memang terkadang keajaiban itu datang tanpa kita sadari, tapi yang paling penting dari semuanya adalah usaha kita untuk mewujudkan apa yang memang ingin kita raih. Contoh lagi (sekali lagi, dari film
) adalah waktu si cewek bertemu dengan bapak-bapak tua di bawah pohon tempat dia seharusnya bertemu dengan cowoknya. Bapak-bapak itu berkata (takdir itu membangun jembatan untuk mencapai cinta… klo gak salah sih kaya gitu.. hehe. Oke, kembali ke masalah awal, jadi pada dasarnya, untuk mencapai sesuatu, yang harus kita lakukan adalah dengan “membangun jembatan” untuk mencapainya. Percuma saja bila kita telah berharap bahwa keajaiban akan datang kepada kita, tapi kita tidak melakukan apa-apa. Tentu saja, ini sejalan dengan salah satu hadist yang gw pernah kaji, bahwa Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum (atau orang secara personal) selama orang itu tidak berusaha untuk merubah dirinya sendiri.
yang ketiga… menonton film “My Sassy Girl” bikin gw makin gak percaya sama yang namanya “Love at the First Sight”. Kenapa? karena pelajaran yang ane dapet dari film itu adalah, cinta datang melalui proses, ketika dua orang yang berbeda jenis mulai merasakan chemistry satu sama lain, itulah bagi gw ketika kita pantas untuk menyebutnya dengan cinta. Ketika masing-masing dari mereka mulai bisa merasakan kehadiran “hati” pasangannya, itulah ketika kita pantas untuk menyebutnya dengan sebutan sayang. Bagi gw, cinta tidak datang dengan tiba-tiba, karena simply saying, cinta pada pandangan pertama itu bukanlah cinta sejati, tapi hanyalah nafsu… atau keinginan untuk memiliki. Cinta sejati bukan dilihat dari rupa seseorang atau bagaimana dia berpenampilan (atau lebih jauh lagi, bagaimana dia bersikap) tapi dari bagaimana seseorang bisa merasakan kehadiran “hati” pasangan jiwanya
itu dulu deh untuk hari ini. jujur gw udah ngantuk nih, pengen tidur